Home / News / Imbas Perang Dagang AS-Cina, Pasar Properti Bangkok Lesu

Imbas Perang Dagang AS-Cina, Pasar Properti Bangkok Lesu

Nataproptech,SerpongPasar perumahan di sejumlah provinsi bagian timurBangkok diperkirakan akan tetap lesu pada tahun depan. Proyeksi ini disampaikanmeskipun ada rencana pembangunan rute kereta api berkecepatan tinggi untukmenghubungkan tiga bandara utama yang diteken pada Kamis (24/10).

Proyeksi yang suram terhadappasar properti tidak lain dikarenakan  perang dagang Amerika Serikat dengan Cina.Pasar lokal mengalami penurunan karena perang dagang melukai sektor industri,sumber utama  permintaan perumahan.

Pelemahan kinerja industri sudah terlihat daribebrbagai aspek. Salah satunya, kebijakan salah satu produsen suku cadang mobiluntuk memotong hari kerja sejak beberapa hari lalu. Situasi itu dapat meningkatpada tahun depan karena dampak dari perang dagang yang lebih besar. Beberapapabrik bahkan memilih untuk berbagi pesanan dengan perusahaan lain untukmenunda kebangkrutan. Kondisi ini akan mempengaruhi daya beli di Chon Buri karenamayoritas pembeli rumahan bekerja di sektor industri, yang terutama berfokuspada ekspor.

Krisis perdagangan telah memperburuk ekonomi Bangkokyang lesu. Di sisi lain, pembatasan pinjaman baru semakin menghantam permintaanperumahan. Khususnya segmen kelas bawah, termasuk townhouse yang bernilai 2juta Baht (67 ribu dolar AS) dan lebih rendah.

Pembangunan jalur kereta berkecepatan tinggi yangmenghubungkan tiga bandara akan membuat harga tanah di Chon Buri kembalimelambung. Dalam lima tahun terakhir harga tanah di daerah setempat naik 50persen dan bahkan naik tiga digit dibeberapa lokasi.

Peningkatanhargatanah itu kemungkinan akan melebihi daya beli pembeli rumah. Pada akhirnya,rumah sewa atau kondominium akan menjadi lebih popular di kalangan penduduksetempat.

Permintaan perumahan di provinsi-provinsi bagiantimur akan melemah karena terjadi penjualan tanah di banyak kawasan industri.Lagi-lagi, faktor utamanya adalah perang dagang yang menyebabkan kinerjaindustri melemah, sehingga harus menjual sebagian atau bahkan semua lahan.

Permintaan perumahan di Chon Buri dan Rayongbeberapa waktu lalu terus tumbuh tinggi karena ada banyak kawasan industri yangdibangun di provinsi-provinsi tersebut. Tapi itu melambat tahun ini setelahperang dagang AS-Cina dimulai.

Diharapkan pemerintah dapat segera memberikaninsentif properti seperti memotong transfer properti dan biaya hipotek menjadi0,01 persen dari dua persen dan satu persen masing-masing. Insentif inidinilainya dapat membantu meningkatkan sentiment pembeli rumah . intensifdiketahui sedang menunggu pengumuman menteri. (EC)