Home / News / Investasi Asing Dorong Permintaan Properti di Karawang

Investasi Asing Dorong Permintaan Properti di Karawang

Nataproptech,SerpongMeningkatnya investasi di Karawang, Jawa Barat,terus mendorong permintaan terhadap properti. Hal ini membawa berkah bagi parapengembang properti. PerekonomianKarawang terus tumbuh dengan masuknya investasi dari dalam maupun luar negeri.Kondisi ini membuat permintaan akan properti melonjak.

Jumlah investasi penanaman modal asing yang masukmencapai Rp 1,635 triliun. Untuk tahun ini, tercatat 6 perusahaan asing, yangberlokasi di Karawang Barat, menanamkan investasi mencapai 100 juta USD. Enampabrik yang berasal dari China, Jepang, hingga Indonesia tersebut, yakni WookGlobal Technology, PT Ikimura Indotool Center, PT Ruiyuan Karawang IndustrialInnovation and Development.

Pada kuartal kedua tahun ini, penanaman modal asingdi Jawa Barat mencapai 1.498 juta USD untuk 3.050 proyek. Jumlah ini meningkatsekitar 26 persen dibandingkan kuartal pertama yang sekitar 1.552 USD untuk1.174 proyek.

Perekonomian Karawang akan terus tumbuh seiringdengan dukungan infrastruktur, yang tengah digarap pemerintah pusat danpemerintah daerah. Pengerjaan proyek Tol Jakarta-Cikampek telah mencapai 96,5persen dan siap digunakan secara fungsional pada Natal 2019. Selain itu, Karawang juga memiliki satu stasiun untuk keretacepat Jakarta-Bandung yang akan beroprasi pada 2020 mendatang.

Sektor properti berpotensi menjadi andalan pertumbuhan ekonomi 2020yang diproyeksi mencapai 5,1-5,5%. Bank Indonesia (BI) akan mengambil kebijakanrelaksasi LTV maupun FTV dengan kelonggaran rasio 5 persen untuk kreditproperti berwawasan lingkungan pada 2 Desember 2019.

Pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia 7 DaysReverse Repo Rate (BI7DRRR) menjadi 5,25% atau turun sebesar 25 basis poin(bps) didukung oleh relaksasi Loan to Value (LTV) dan Finance to Value (FTV)untuk pembiayaan kepemilikan properti, baik rumah tapak maupun rumah tinggaldan Rumah Kantor (Rukan) dan Rumah Toko (Ruko).

Kebijakan Bank Indonesia secara bersamaan inidiharapkan dapat membuat uang muka yang dibayar debitur atau properti lainnyaberkurang. Semakin longgar, maka makin kecil uang muka atau Down Payment (DP)yang disediakan konsumen.

Sinyal perlambatan pertumbuhan properti sudahterlihat pada Juli sehingga BI mengambil kebijakan relaksasi LTV. Sektorproperti berpotensi menjadi andalan pertumbuhan ekonomi 2020 yang diproyeksimencapai 5,1-5,5%. Relaksasi LTV ini akan berpengaruh tidak hanyabagi pembeli rumah pertama, tapi juga investment buyers karena dapatdengan mudah dan cepat membeli properti kedua, ketiga, dan seterusnya untukdijadikan portofolio investasinya.

Selain mempermudah konsumen, hal ini jugamembantu developer karena penjualan rumah menjadi lebih mudah.Sebelumnya pada Juni 2018, pengembang juga lebih mudah mendapatkan pencairankredit dengan memberikan persyaratan yang lebih terutama pembelian rumah indendengan KPR inden.(EC)